Kenapa Overthinking Sering Terjadi Jelang Tidur?
- Freepik
Lifestyle –Apakah Anda pernah terbaring di kasur, mata terasa berat, tapi pikiran justru makin liar? Rekaman ingatan tentang kegagalan hari ini, rencana esok, kekhawatiran tak terpecahkan, semua muncul dan memutar-mutar di benak.
Inilah yang sering disebut overthinking menjelang tidur, yakni kondisi di mana pikiran terus-menerus berputar dengan kecemasan, keraguan, atau refleksi negatif padahal tubuh ingin istirahat. Bila tidak ditangani, fenomena ini bisa memicu susah tidur (insomnia) atau kualitas tidur buruk.
Dalam artikel ini, kita akan menggali mengapa overthinking muncul di malam hari, bagaimana dampaknya secara psikologis dan fisiologis (berdasarkan penelitian dan pemikiran ahli), serta strategi praktis yang telah terbukti untuk meredam pikiran agar tidur bisa datang dengan lebih tenang.
Mengapa Otak Kita 'Berisik' Saat Malam?
1. Keterkaitan dengan stres dan rumination (pemikiran berulang negatif)
Penelitian menunjukkan bahwa stres terutama peristiwa hidup signifikan atau tekanan harian dapat langsung dan tidak langsung mempengaruhi kualitas tidur melalui jalur mediasi seperti rumination (berpikir kembali secara repetitif) dan kecemasan sosial.
Ketika stres meningkat, orang cenderung memikirkan kembali masalah yang belum terselesaikan atau kekhawatiran karena masa depan, dan ini disebut repetitive negative thinking (RNT). Sebuah studi dengan 507 mahasiswa memperlihatkan bahwa hubungan antara stres diri dan derajat insomnia diperkuat jika individu cenderung melakukan RNT menjelang tidur (bedtime RNT).
Secara lebih luas, meta-analisis menunjukkan bahwa gangguan tidur dan kualitas tidur dapat dikurangi bila intervensi berhasil meningkatkan tidur hal ini berpengaruh positif terhadap depresi, kecemasan, stres, dan rumination.