Kenapa Overthinking Sering Terjadi Jelang Tidur?
- Freepik
2. Reaktivitas tidur (sleep reactivity) sebagai faktor predisposisi
Istilah sleep reactivity merujuk pada sejauh mana stres dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk tidur atau tetap tidur. Orang dengan reaktivitas tidur tinggi lebih rentan terhadap insomnia ketika terpapar stres.
Dalam sebuah studi longitudinal, reaktivitas tidur terbukti menjadi faktor risiko terjadinya insomnia pada orang dewasa tanpa riwayat sebelumnya.
3. Arousal kognitif dan emosional di malam hari
Pada malam hari, tidak ada aktivitas eksternal yang “mengganggu” pikiran sehingga benak kita sering kali menjadi panggung untuk pemikiran internal. Saat tubuh hendak rileks, otak masih aktif memproses informasi, mencari solusi, atau merefleksikan kejadian. Kondisi ini dikenal sebagai cognitive-emotional arousal dan sering ditemukan pada insomnia.
Sebuah kajian memperlihatkan bahwa jenis insomnia dengan durasi tidur normal seringkali bukan disebabkan oleh peningkatan aktivitas sistem stres fisiologis, melainkan karena arousal kognitif dan emosional (yakni pikiran dan kekhawatiran) yang tinggi.