Kenapa Pikiran Selalu Ramai Saat Malam?
- Freepik
Menurut ahli tidur dan pengobatan integratif, Dr. Damiana Corca, dalam tulisannya “The Overthinking Sleeper: When Your Mind Won’t Stop at Night”, ia menjelaskan bahwa otak memiliki jaringan yang disebut Default Mode Network (DMN).
”Agar tidur bisa terjadi dengan sehat, DMN seharusnya beralih dari aktivitas berpikir bebas ke keadaan yang lebih tenang yang dibutuhkan untuk memulai tidur. Pada orang yang overthinking, DMN justru terjebak dalam pola pikir berulang yang berputar-putar, bukan berpindah ke keadaan damai,” kata dia.
Dengan kata lain, DMN kita tidak “dimatikan” saat malam tiba, melainkan tetap berputar di mode reflektif memproses pengalaman, emosi, atau penyesalan sehingga sulit beralih ke kondisi tenang untuk tidur.
Stres, Hormon, dan Ritme Tubuh
Setelah hari yang panjang dan melelahkan, tubuh kita seharusnya bersiap memasuki fase relaksasi. Namun jika sepanjang hari kita mengalami stres, tubuh masih menyimpan kadar hormon stres seperti kortisol yang tinggi.
Kortisol membuat tubuh tetap siaga, bahkan ketika lampu sudah dimatikan. Ritme biologis (sirkadian) kita pun jadi terganggu. Akibatnya, transisi dari keadaan “aktif” ke “tenang” berjalan lambat, dan otak terus berpikir karena merasa belum aman untuk istirahat.
Selain itu, emosi yang belum terselesaikan di siang hari rasa kecewa, marah, atau cemas ikut menumpuk. Di malam hari, saat tak ada lagi distraksi, semua “utang emosi” itu muncul ke permukaan, membuat kita sibuk merenung dan sulit tidur.