Bau Keringat Bisa Jadi Tanda Penyakit? Nomor 7 Paling Mengejutkan!
- Freepik
Jika Anda sering tiba-tiba merasa panas, bangun dengan pakaian basah kuyup, atau berkeringat meski tidak kepanasan, hormon bisa jadi penyebabnya. Perubahan hormon akibat menopause, kehamilan, atau sindrom pramenstruasi (PMS) dapat mengacaukan regulasi suhu tubuh.
Tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) juga bisa meningkatkan sensitivitas terhadap panas dan menyebabkan keringat berlebih. Jika Anda sering mengalami keringat malam atau kepanasan tanpa sebab jelas, sebaiknya periksa fungsi hormon dan tiroid ke dokter. Evaluasi dini dapat mengurangi ketidaknyamanan sekaligus mencegah komplikasi.
3. Stres
Keringat karena stres bukan hanya ada di kepala Anda baunya memang berbeda. Sebagian besar keringat berasal dari kelenjar eccrine yang terutama mengeluarkan air dan garam. Namun saat stres, kelenjar apocrine (seperti di ketiak) mulai bekerja, menghasilkan keringat lebih kental yang mengandung protein, lemak, dan gula. Saat bercampur dengan bakteri kulit, keringat ini menimbulkan bau lebih menyengat. Itulah sebabnya keringat gugup terasa lebih lengket dan bau dibandingkan keringat setelah olahraga.
4. Emosi (Kebahagiaan dan Ketakutan)
Mungkin terdengar aneh, tapi emosi juga bisa memengaruhi bau keringat. Penelitian menunjukkan bahwa manusia bisa mendeteksi kebahagiaan bahkan rasa takut hanya dari bau. Dalam sebuah studi, peserta bisa menebak apakah seseorang baru menonton video lucu atau menakutkan hanya dengan mencium keringatnya dan hasilnya sering tepat. Meski riset lanjutan masih dibutuhkan, temuan ini mengindikasikan bahwa keringat membawa sinyal emosional halus.