Tren De-Influencing Ajak Masyarakat Belanja Cerdas Bukan Ikut-Ikutan

Ilustrasi Stop Belanja Konsumtif
Sumber :
  • Freepik

Lifestyle – Selama bertahun-tahun, media sosial dipenuhi dengan konten influencing, yakni ajakan membeli produk tertentu yang digadang-gadang akan membuat hidup lebih mudah, cantik, atau bergaya. Tren tersebut justru dapat menjadi pintu gerbang menjadi konsumtif sehingga muncul , gerakan yang kini mulai ramai dibicarka yaitu de-influencing.

7 Tanda Keuangan Anda Belum Sehat, Nomor 3 Bisa Bikin Miskin!

De-influencing adalah tren di mana kreator konten justru mendorong audiens untuk tidak membeli produk-produk yang dianggap berlebihan, tidak berguna, atau sekadar hasil gimik pemasaran. Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa tidak semua tren harus diikuti, dan bahwa gaya hidup konsumtif sering kali hanya membuat dompet tipis tanpa benar-benar meningkatkan kualitas hidup.

Apa Itu De-Influencing?

Secara sederhana, de-influencing adalah kebalikan dari influencing. Jika influencer biasanya merekomendasikan produk agar dibeli maka de-influencer justru mengkritisi tren tersebut dan mengajak audiens berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang. 

20 Kebiasaan Frugal Living yang Bisa Mengubah Finansial Anda

Kaum de-influencer menyoroti sisi realistis, apakah barang ini benar-benar bermanfaat? Apakah kualitasnya sepadan dengan harga? Atau sekadar tren sesaat yang cepat dilupakan?

Gerakan ini tidak melarang konsumsi sama sekali, tetapi mengedepankan sikap kritis, bijak, dan sadar finansial. Alih-alih mendorong belanja impulsif, de-influencing menekankan pada mindful spending, yaitu membeli sesuai kebutuhan dan prioritas, bukan sekadar ikut-ikutan.

Faktor De-Influencing Populer

Halaman Selanjutnya
img_title
5 Cara Cermat Mengelola Keuangan untuk Para Pekerja Remote dan Freelancer