Tren De-Influencing Ajak Masyarakat Belanja Cerdas Bukan Ikut-Ikutan
- Freepik
Dampak De-Influencing pada Perilaku Belanja
Gerakan de-influencing mulai mengubah pola pikir konsumen. Jika sebelumnya media sosial identik dengan belanja impulsif, kini muncul keseimbangan. Orang-orang lebih berani berkata “tidak” pada tren yang tidak relevan dengan kebutuhan mereka.
Gerakan ini membawa sejumlah dampak positif bagi masyarakat. Salah satunya adalah membuat pengeluaran lebih terkendali, karena konsumen mulai belajar membedakan mana yang benar-benar menjadi kebutuhan dan mana yang hanya keinginan sesaat.
Selain itu, tren ini juga meningkatkan kesadaran lingkungan, terutama dalam mengurangi limbah konsumtif seperti fast fashion yang sering kali mendorong orang untuk membeli tanpa perhitungan. Lebih jauh lagi, de-influencing mengajak masyarakat kembali menghargai nilai kualitas, bukan sekadar ikut-ikutan tren viral yang cepat berganti.
Kritik terhadap De-Influencing
Meski membawa pesan positif, de-influencing juga mendapat kritik. Beberapa pihak menilai gerakan ini hanya “tren baru” yang bisa kehilangan makna jika akhirnya menjadi konten sensasional semata. Ada juga yang berpendapat bahwa beberapa de-influencer tetap memonetisasi konten dengan merekomendasikan “alternatif produk” yang tetap mendorong konsumsi, hanya dengan label lebih murah atau lebih bermanfaat.
Namun demikian, tren ini tetap memberi kontribusi positif dengan mengajak audiens lebih kritis terhadap pola konsumsi dan promosi yang mereka hadapi setiap hari di dunia digital.