Jangan Dimanja, Inilah Alasan Anak Harus Diajarin Gagal Sejak Dini
- Grok
Psikolog klinis, Dr. Amy McCart, menyatakan bahwa anak yang terbiasa dengan kegagalan cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah saat menghadapi situasi baru. Dengan membiarkan anak menghadapi kegagalan dalam konteks yang aman, seperti kalah dalam permainan olahraga atau mendapat nilai rendah di tugas sekolah, orang tua dapat membantu mereka membangun toleransi terhadap ketidakpastian dan mengurangi perfeksionisme yang tidak sehat.
Mengajarkan Nilai Usaha dan Proses
Kegagalan mengajarkan anak bahwa hasil bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan; usaha dan proses juga memiliki nilai penting. Dalam budaya yang sering kali berfokus pada hasil akhir, seperti nilai tinggi atau trofi, anak perlu memahami bahwa belajar dari kesalahan adalah bagian integral dari perkembangan.
Contohnya, ketika anak gagal dalam ujian matematika, orang tua dapat membimbing mereka untuk menganalisis kesalahan dan mencari strategi belajar yang lebih efektif. Pendekatan ini menanamkan nilai kerja keras dan ketekunan, yang akan berguna dalam kehidupan akademik dan profesional mereka di masa depan.
Cara Menerapkan Pelajaran Kegagalan
Orang tua dapat mengajarkan anak tentang kegagalan melalui beberapa cara praktis:
- Berikan tantangan yang sesuai usia: Pilih aktivitas yang cukup menantang tetapi tidak membuat anak frustrasi, seperti permainan logika untuk anak prasekolah atau proyek sains sederhana untuk anak yang lebih besar.
- Dampingi tanpa mengambil alih: Biarkan anak mencoba sendiri, tetapi berikan dukungan emosional dan panduan saat mereka membutuhkan.
- Refleksikan kegagalan bersama: Setelah anak mengalami kegagalan, ajak mereka berdiskusi tentang apa yang bisa dipelajari dan bagaimana mereka bisa mencoba lagi.
- Puji usaha, bukan hanya hasil: Alih-alih memuji anak hanya saat berhasil, hargai usaha mereka meskipun hasilnya belum sempurna.