Antara Cinta dan Lelah, Konflik Emosional yang Sering Dialami Generasi Sandwich
- Pixaby
Cinta jelas menjadi motivasi utama generasi sandwich. Mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak sekaligus membalas jasa orang tua. Namun, cinta ini kerap bercampur dengan rasa bersalah yakni merasa tidak pernah cukup.
Seorang peneliti bernama Dr. Lei pernah menjelaskan bahwa setiap bagian dari tanggung jawab ini saja sudah penuh tekanan, apalagi jika digabung.
“Satu saja dari tanggung jawab ini bisa sangat menekan. Jika semuanya digabung, kondisinya jadi jauh lebih berat,” kata dia.
Konflik lain muncul karena keterbatasan waktu. Menurut Dr. Lei, banyak dari generasi sandwich akhirnya tidak bisa memberikan waktu berkualitas untuk anak-anak mereka, bahkan hubungan pernikahan ikut terpengaruh. Beban emosional yang terus menumpuk membuat energi terkuras habis, bukan hanya secara fisik tetapi juga mental.
Sementara itu, asisten profesor di Leonard Davis School of Gerontology, University of Southern California, Dr. Francesca Falzarano, menggambarkan kondisi ini bukan sekadar sandwich.
“Ini lebih mirip tujuh lapis tumpukan daripada sekadar sandwich,” katanya.
Ungkapan ini menggambarkan betapa kompleksnya beban generasi sandwich, berlapis-lapis, melibatkan emosi, waktu, tenaga, hingga kondisi keuangan.