Reskilling vs Upskilling: Mana yang Lebih Cepat Membantu Mendapatkan Kerja?
- Freepik
Lifestyle – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menghantui pekerja di berbagai sekor. Kekhawatiran pekerja semakin besar karena adanya pergeseran kebutuhan industri sehingga mencari pekerjaan baru tak cukup hanya mengandalkan pengalaman lama.
Keterampilan yang dulu relevan, kini mulai ditinggalkan pasar. Dalam situasi ini, dua istilah kerap muncul sebagai solusi, yakni reskilling dan upskilling. Keduanya sama-sama bertujuan meningkatkan daya saing tenaga kerja.
Namun bagi pencari kerja, pertanyaan terpenting bukan sekadar definisi, melainkan efektivitas. Mana yang lebih cepat membantu seseorang kembali bekerja—reskilling atau upskilling? Jawabannya bergantung pada kondisi individu dan arah pasar tenaga kerja.
Memahami Perbedaan Reskilling dan Upskilling
Upskilling berarti meningkatkan keterampilan yang sudah dimiliki agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Contohnya, staf pemasaran yang mempelajari analitik digital atau karyawan administrasi yang menguasai perangkat lunak otomatisasi.
Sementara itu, reskilling mengacu pada mempelajari keterampilan baru untuk berpindah peran atau bahkan sektor kerja. Misalnya, pekerja ritel yang beralih menjadi customer support digital atau pekerja manufaktur yang masuk ke bidang logistik berbasis teknologi.
Menurut World Economic Forum (WEF) dalam laporan Future of Jobs, hampir 44 persen keterampilan inti tenaga kerja global diperkirakan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini membuat reskilling dan upskilling sama-sama krusial, tetapi dengan dampak yang berbeda.