Hati-Hati! 5 Jebakan Finansial Berkedok Self-Reward Bisa Bikin Tekor
Contoh sederhana: Rp50.000 per hari untuk kopi kekinian bisa berubah menjadi Rp1,5 juta per bulan. Uang sebesar itu sebenarnya bisa dialihkan untuk investasi atau tabungan dana darurat. Jika self-reward berubah dari apresiasi menjadi kebiasaan, justru menjerumuskan ke pengeluaran tak terkendali.
2. Membeli Barang yang Tidak Dibutuhkan
Jebakan lain adalah menjadikan self-reward sebagai alasan membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Diskon, tren, atau flash sale sering membuat orang tergoda. Kalimat seperti “kan ini untuk hadiah diri sendiri” seakan menjadi pembenaran untuk berbelanja impulsif.
Masalahnya, barang-barang ini sering kali tidak terpakai atau hanya memberi kepuasan sesaat. Dalam jangka panjang, tumpukan belanjaan yang tidak digunakan sama saja dengan pemborosan. Prinsip sederhana: jika barang tidak menambah nilai dalam hidup Anda, mungkin itu bukan self-reward yang bijak.
3. Mengandalkan Kartu Kredit
Banyak orang menggunakan kartu kredit dengan alasan praktis. Namun, mengandalkan kartu kredit untuk self-reward tanpa perhitungan matang bisa jadi jebakan berbahaya. Utang kartu kredit yang menumpuk dengan bunga tinggi membuat hadiah kecil berubah jadi beban finansial besar.
Self-reward seharusnya memberi rasa lega, bukan menambah stres karena tagihan bulanan. Oleh karena itu, pastikan setiap bentuk hadiah diri hanya dilakukan jika ada dana yang benar-benar tersedia, bukan hasil gali lubang tutup lubang.