Kehilangan Anak Lebih Menyakitkan bagi Orang Tua

Ilustrasi ibu berduka kehilangan anak
Sumber :
  • Freepik

Efek ini terjadi karena rasa kehilangan anak memengaruhi hampir semua aspek hidup  yakni emosi, kesehatan fisik, keuangan, hubungan sosial, bahkan spiritualitas.

Psikiater kenamaan yang memperkenalkan model lima tahap duka, Elisabeth Kübler-Ross dalam bukunya On Grief and Grieving, ia menulis bahwa sulit bagi kita untuk benar-benar melupakan akan kepergian orang yang kita cintai.

“Kenyataannya adalah kamu akan berduka selamanya. Kamu tidak akan pernah benar-benar ‘melupakan’ kepergian orang yang kamu cintai, kamu hanya akan belajar hidup dengannya. Kamu akan sembuh, dan kamu akan membangun kembali dirimu di sekitar kehilangan itu. Kamu akan utuh kembali, tapi kamu tidak akan pernah sama seperti sebelumnya,” tulis dia dalam buku tersebut.

Kutipan ini menggambarkan dengan jelas kondisi orang tua yang kehilangan anak. Duka tidak akan pernah hilang, namun perlahan orang tua belajar hidup berdampingan dengan rasa sakit itu. Mereka mungkin bisa tersenyum lagi, tetapi luka itu tetap ada, menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Rasa Bersalah yang Abadi

Salah satu alasan mengapa kehilangan anak begitu menghancurkan adalah rasa bersalah yang sering menyertainya. Banyak orang tua merasa gagal menjaga anak mereka tetap hidup. Ada yang terus bertanya-tanya, “Seandainya saya ada di sana… seandainya saya bisa mencegahnya…” Pikiran semacam ini memperberat proses duka.

Psikolog duka Alan Wolfelt menyebut rasa bersalah sebagai ’teman gelap’ dari berduka. Orang tua perlu memahami bahwa kehilangan anak bukan selalu karena kesalahan mereka, melainkan bagian dari takdir atau hal-hal di luar kendali.