Culture Shock Tinggal di Jakarta, Pendatang Harus Kuat Mental

Thamrin Nine Jakarta
Sumber :
  • Thamrinnine.com

Kemacetan dan Tantangan Transportasi

Kemacetan lalu lintas adalah ciri khas Jakarta yang sering mengejutkan pendatang. Menurut laporan TomTom Traffic Index 2023, Jakarta termasuk dalam daftar kota dengan kemacetan terparah di Asia Tenggara, dengan rata-rata waktu tempuh 10 kilometer mencapai 30-40 menit pada jam sibuk. 

Pendatang yang tidak terbiasa mungkin merasa frustrasi saat menghabiskan waktu berjam-jam di jalan, terutama jika menggunakan kendaraan pribadi. Transportasi umum seperti MRT, KRL, atau TransJakarta menjadi solusi, tetapi memerlukan adaptasi, seperti memahami jadwal dan rute yang kompleks. 

Bagi pendatang, menguasai aplikasi seperti JakLingko atau Google Maps sangat penting untuk menavigasi kota dengan efisien. Selain itu, penggunaan kartu elektronik seperti Flazz atau JakCard untuk pembayaran transportasi juga menjadi kebutuhan agar tidak ketinggalan dalam antrean yang cepat.

Keragaman Sosial dan Bahasa

Jakarta adalah melting pot budaya, dengan penduduk dari berbagai suku, agama, dan latar belakang yang hidup berdampingan. Menurut data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, kota ini dihuni oleh suku Jawa, Betawi, Sunda, Tionghoa, dan banyak lainnya, menciptakan keragaman sosial yang kaya namun kompleks. 

Pendatang mungkin mengalami culture shock saat berinteraksi dengan dialek atau bahasa lokal, seperti penggunaan istilah Betawi “cepek” (seratus) atau “gocap” (lima puluh). Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia yang bercampur dengan istilah gaul atau bahasa Inggris di kalangan anak muda Jakarta bisa membingungkan.