Belajar dari Raja Charisson Sinurat, Begini Tips Membangun Mental Juara pada Anak Sejak SD

Raja Charisson Sinurat
Sumber :
  • Istimewa

Lifestyle – Kisah inspiratif Raja Charisson Sinurat, seorang siswa Sekolah Dasar YPPGI Agats dari Kabupaten Asmat, Papua Selatan, telah mengguncang dunia pendidikan Indonesia. 

Di usianya yang masih belia, Raja berhasil meraih prestasi gemilang dengan menyabet delapan piala dan satu medali emas di Hong Kong International Mathematical Olympiad (IHKMO) 2025. Kompetisi yang diikuti 964 peserta dari berbagai negara seperti Australia, Kanada, hingga Singapura ini menjadi bukti bahwa mental juara dapat dibentuk sejak dini, bahkan di tengah keterbatasan sarana. 

Prestasi Raja bukan hanya kebanggaan bagi Indonesia, tetapi juga pelajaran berharga bagi orangtua dan pendidik dalam membimbing anak-anak menuju kesuksesan. 

Berikut adalah strategi mendalam untuk membangun mental juara pada anak sejak sekolah dasar, terinspirasi dari perjalanan Raja.

1. Menanamkan Cinta pada Proses Belajar

Mental juara sejati tidak lahir dari kemenangan instan, melainkan dari kecintaan terhadap proses belajar. Raja dikenal memiliki semangat belajar yang luar biasa, yang terlihat dari dedikasinya menghadapi tantangan matematika di IHKMO. 

Orangtua dapat mengajarkan anak untuk menikmati setiap langkah dalam belajar, seperti menyelesaikan soal sulit atau mencoba pendekatan baru. Berikan pujian atas usaha mereka, meskipun hasilnya belum sempurna. Misalnya, ketika anak berhasil menyelesaikan satu soal setelah beberapa kali mencoba, hargai ketekunan mereka. 

Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa proses adalah bagian penting dari keberhasilan, sekaligus membangun ketahanan mental.

2. Membangun Kepercayaan Diri yang Kokoh

Keberanian Raja untuk bersaing di ajang internasional melawan ratusan peserta menunjukkan rasa percaya diri yang kuat. Kepercayaan diri ini tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk melalui lingkungan yang mendukung eksplorasi dan ekspresi.

Orangtua dapat memupuk kepercayaan diri anak dengan memberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat, seperti mendiskusikan ide mereka dalam kegiatan sehari-hari. Hindari meremehkan gagasan anak, meskipun terdengar sederhana. 

Selain itu, dorong anak untuk mencoba hal baru, seperti mengikuti lomba atau aktivitas ekstrakurikuler, agar mereka terbiasa menghadapi tantangan tanpa rasa takut.

3. Menjadikan Kegagalan sebagai Pembelajaran

Sebelum mencapai puncak di IHKMO 2025, Raja pernah mengalami kegagalan di kompetisi internasional lainnya. Namun, ia tidak menyerah, melainkan belajar dari kesalahan tersebut. 

Orangtua perlu mengajarkan anak bahwa kegagalan adalah bagian alami dari proses menuju keberhasilan. Alih-alih memarahi anak saat gagal, ajak mereka merefleksikan apa yang bisa diperbaiki. Misalnya, jika anak tidak berhasil dalam ujian matematika, diskusikan strategi belajar yang bisa ditingkatkan. 

Dengan demikian, anak akan melihat kegagalan sebagai peluang untuk tumbuh, bukan sebagai akhir dari perjuangan.

4. Menciptakan Lingkungan yang Mendukung

Raja berasal dari daerah dengan keterbatasan infrastruktur, namun dukungan dari ibunya, komunitas, dan tokoh masyarakat seperti Gubernur Papua Barat Daya, Orpa Susana Kambuaya, menjadi pendorong utama kesuksesannya. 

Lingkungan yang positif sangat penting dalam membentuk mental juara. Orangtua dapat menciptakan suasana rumah yang kondusif untuk belajar, seperti menyediakan ruang belajar yang nyaman atau mengurangi gangguan selama anak belajar. 

Selain itu, komunikasi aktif dengan guru di sekolah dapat membantu orangtua memahami kebutuhan anak dan memberikan dukungan yang tepat. Libatkan juga komunitas, seperti klub belajar, untuk memperluas jaringan dukungan anak.

5. Menanamkan Nilai Nasionalisme dan Tujuan Besar

Salah satu momen mengharukan dari perjalanan Raja adalah ketika ia mempersembahkan kemenangannya sebagai kado untuk HUT ke-80 Republik Indonesia. Sikap ini menunjukkan bahwa Raja memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar prestasi pribadi. 

Orangtua dapat menanamkan nilai nasionalisme sejak dini dengan mengajarkan anak tentang kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia. 

Ceritakan kisah-kisah inspiratif tentang tokoh nasional atau ajak anak berpartisipasi dalam kegiatan yang memperkuat rasa cinta tanah air, seperti lomba bertema kemerdekaan. Dengan memiliki tujuan yang bermakna, anak akan termotivasi untuk berprestasi demi kebaikan yang lebih luas.

6. Memperkenalkan Role Model yang Inspiratif

Kekaguman Raja pada ilmuwan Isaac Newton, terutama kutipannya “Tempat Bukanlah Masalah untuk Belajar,” menjadi pendorong utama semangatnya. Role model memiliki peran besar dalam membentuk visi anak. 

Orangtua dapat memperkenalkan anak pada tokoh-tokoh inspiratif sesuai minat mereka, seperti ilmuwan, atlet, atau seniman. Misalnya, jika anak menyukai sains, ceritakan kisah Thomas Alva Edison atau B.J. Habibie. 

Ajak anak untuk membaca buku atau menonton dokumenter tentang tokoh tersebut agar mereka memiliki panutan yang jelas. Role model yang positif akan membantu anak menetapkan tujuan jangka panjang dan tetap termotivasi.