15,9 Juta Anak Indonesia Krisis Figur Ayah, Psikolog UGM Ungkap Penyebabnya
- Freepik
Lifestyle – Fenomena fatherless atau absennya figur ayah kini menjadi isu serius dalam psikologi anak di Indonesia. Kondisi ini merujuk pada situasi di mana ayah tidak hadir secara emosional atau kurang berkontribusi dalam perkembangan anak, meskipun secara fisik mungkin ada.
Data yang ada mengkhawatirkan: sekitar 15,9 juta anak di Indonesia berisiko besar tumbuh tanpa partisipasi ayah yang memadai. Rinciannya, 4,4 juta anak hidup dalam keluarga tanpa kehadiran fisik ayah. Sementara itu, 11,5 juta anak lainnya tinggal bersama ayah yang bekerja sangat panjang, yakni lebih dari 60 jam per minggu (lebih dari 12 jam per hari). Padahal, peran ayah sangat krusial dalam membentuk kepercayaan diri, moral, dan kecerdasan emosional anak.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa ketidakhadiran ayah mencakup aspek fisik dan emosional, yang berdampak besar pada perkembangan psikologis dan sosial anak.
“Banyak keluarga masa sekarang yang mengalami ketidakhadiran ayah karena faktor pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi. Namun, kehadiran ayah tetap dibutuhkan untuk mendukung perkembangan emosional dan sosial anak,” paparnya, dilansir dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, Selasa 21 Oktober 2025.
Menurut Rahmat, perkembangan anak didukung oleh tiga pilar pembelajaran utama: observasional, behavioral, dan kognitif. Ketiga proses ini sangat membutuhkan ayah sebagai model peran utama (role model). Melalui pembelajaran observasional, anak meniru perilaku yang dilihatnya sejak dini.
“Pertama yang paling tidak disadari adalah proses belajar secara observasional dimana anak belajar melihat, mengamati, menirukan ini sebagai satu pola yang ada sejak anak-anak, dari masa kecil, dari lahir sampai seterusnya melalui belajar observasional. Dalam proses ini yang penting adalah siapa role model-nya,” ujarnya.
Dalam proses behavioral, ayah berperan membentuk disiplin melalui pembiasaan, apresiasi, dan koreksi perilaku. Sementara dalam proses kognitif, peran ayah terlihat melalui komunikasi dan nasihat yang membangun penalaran dan moral anak.