Alasan Kenapa Gender Reveal Selalu Pakai Warna Biru dan Pink

Ilustrasi gender reveal
Sumber :
  • Pixabay

Lifestyle – Pesta gender reveal telah menjadi fenomena global yang marak dirayakan oleh calon orang tua untuk mengumumkan jenis kelamin buah hati mereka. Inti dari perayaan yang penuh kejutan ini hampir selalu didominasi oleh dua warna ikonik: biru muda untuk bayi laki-laki dan merah muda (pink) untuk bayi perempuan. Pertanyaan mendasar pun muncul: Mengapa harus kedua warna ini? Apakah ada alasan biologis ataukah ini sekadar konvensi sosial yang mengakar kuat?

img_title 5 Masjid Tertua di Dunia, Warisan Sejarah Islam yang Masih Berdiri

Jawaban atas dominasi warna biru dan pink dalam ritual gender reveal adalah sebuah kisah panjang tentang sejarah, industri, dan konstruksi sosial yang telah mengalami pergeseran makna dramatis dari waktu ke waktu. 

Jauh sebelum pesta gender reveal menjadi tren, bahkan identifikasi warna dengan gender pernah berada pada posisi yang terbalik dari yang kita kenal hari ini.

Pergeseran Makna Historis: Ketika Pink Justru untuk Laki-laki

img_title Mengenal Ekosistem Karbon Biru dan Kaitannya dengan Pengendalian Perubahan Iklim

Menariknya, di awal abad ke-20, asosiasi warna dengan gender justru berkebalikan. Pada masa itu, tidak jarang bayi laki-laki di Eropa dan Amerika mengenakan pakaian berwarna merah muda. Warna pink, yang merupakan derivasi dari warna merah yang melambangkan kekuatan, keberanian, dan semangat muda, dianggap lebih sesuai untuk sifat maskulin. Merah muda juga terinspirasi dari seragam militer dan pakaian bangsawan dewasa saat itu.

Sebaliknya, biru muda sering dikaitkan dengan bayi perempuan. Warna biru dianggap sebagai warna yang lebih lembut, halus, dan menenangkan. Di dalam konteks agama Katolik, biru juga merupakan warna yang secara simbolis dikaitkan dengan Bunda Maria. Oleh karena itu, biru dianggap melambangkan sifat feminin, seperti kelembutan dan kesopanan.

img_title Pentingnya Nutrisi Optimal untuk Kehamilan Sehat dan ASI Berkualitas

Pergeseran ini mulai terlihat signifikan sekitar tahun 1920-an. Sebuah publikasi dari majalah Time pada tahun 1927 menyurvei department store besar di Amerika Serikat, yang menunjukkan adanya pembagian preferensi, meskipun belum solid. Perubahan haluan yang masif baru benar-benar terjadi setelah Perang Dunia II dan puncaknya pada tahun 1940-an.

Halaman Selanjutnya
img_title