Job Hugging, Kebiasaan Nyaman di Zona Aman yang Bisa Menghambat Kariermu
- Freepik
Lifestyle – Job hugging mungkin terasa nyaman, tetapi dalam jangka panjang, bisa menjadi hambatan bagi perkembangan pribadi dan kemajuan organisasi. Berani keluar dari zona aman adalah langkah pertama menuju karier yang lebih dinamis dan masa depan profesional yang lebih cerah.
Dalam dunia kerja yang terus berubah cepat, banyak profesional tanpa sadar terjebak dalam sebuah fenomena bernama job hugging. Istilah ini mengacu pada kebiasaan karyawan yang terlalu nyaman dengan posisinya saat ini sehingga enggan berpindah peran, menerima tantangan baru, atau mengembangkan diri. Sekilas terdengar aman, tetapi dalam jangka panjang, job hugging justru dapat menjadi penghambat utama dalam perjalanan karier maupun pertumbuhan organisasi.
Fenomena ini menjadi sorotan , yang digelar secara daring oleh Sakura System Solutions baru-baru ini, melalui platform Zoom. Puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari profesional HR, IT, hingga procurement, ikut serta dalam diskusi yang menggali dampak job hugging terhadap produktivitas, inovasi, dan transformasi digital perusahaan.
“Fenomena job hugging sering kali tidak terlihat di permukaan. Namun dampaknya sangat signifikan terhadap produktivitas dan dan sustainability kepemimpinan perusahaan, terutama saat perusahaan tengah menjalankan transformasi digital,” ujar Ari Tjahjanto, CEO Wongke Solution dan Praktisi Human Capital, dalam acara Industrial Insight Series bertajuk Job Hugging: The Hidden Challenge to Organizational Productivity and Long-Term Sustainability.
Nyaman Belum Tentu Aman
Banyak karyawan memilih untuk tetap berada di posisi yang sama selama bertahun-tahun karena sudah terbiasa dengan ritme kerja dan tanggung jawabnya. Namun, kenyamanan ini bisa menjadi jebakan karier. Tanpa tantangan baru, kemampuan dan pengalaman tidak berkembang, sehingga peluang promosi atau peningkatan kompetensi bisa terhambat.
Dalam konteks organisasi, karyawan yang job hugging dapat memperlambat inovasi dan menahan laju transformasi digital. Ketika terlalu banyak individu enggan berubah, perusahaan kesulitan menciptakan tim yang adaptif dan progresif.